JURNAL EKSTRAKSI TEMULAWAK PDF

JURNAL EKSTRAKSI TEMULAWAK PDF

Aug 29, 2020 Environment by admin

ISOLASI MINYAK ATSIRI DARI TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza ROXB) kehalusan bahan, jenis pelarut, lama ekstraksi, konsentrasi pelarut, nisbah. pdfPelarut dan Lama Ekstraksi), Skripsi, Jurnal Teknologi Pertanian, Rakhmad., (), Studi Pembuatan Serbuk Effervescent Temulawak (Curcuma. PENGARUH JENIS PELARUT PADA EKSTRAKSI KURKUMINOID DARI RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Chem Info Journal Jurnal Kimia, Fakultas Sains dan Matematika. Open Journal Systems. User.

Author: Vudotilar Tohn
Country: Liechtenstein
Language: English (Spanish)
Genre: Automotive
Published (Last): 16 March 2018
Pages: 328
PDF File Size: 11.70 Mb
ePub File Size: 6.8 Mb
ISBN: 338-4-88250-867-3
Downloads: 59408
Price: Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader: Togar

Published on Dec View Download Untuk mendapatkan minyak atsiri, rimpang temulawak dibersihkan dari kulitnya, dipotong kecil dan diblender lalu didestilasi.

Analisa sifat fisika minyak atsiri yaitu terhadap warna, berat jenis dan indeks bias. Warna minyak temulawak segar didapatkan kuning, sedangkan pada temulawak kering berwarna kuning pucat. Indeks bias temulawak segar 1, dan pada temulawak kering 1, dan berat jenis temulawak segar yaitu 0, dan pada temulawak kering yaitu 0, Sedangkan analisa sifat kimia minyak atsiri temulawak segar dilakukan terhadap bilangan asam yaitu 1, dan bilangan ester yaitu 36, sedangkan pada temulawak kering didapatkan bilangan asam 2, dan bilangan ester yaitu 35, Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa temulawak kering dapat menghasilkan minyak atsiri lebih banyak dibandingkan dengan temulawak segar.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia telah menentukan 9 tanaman unggulan salah satunya adalah temulawak. Pengembangan tanaman temulawak di Indonesia sangat potensial karena produksi rimpang temulawak mengalami peningkatan sejak tahun – BPS, Temulawak adalah tumbuhan asli Indonesia tetapi penyebarannya hanya terbatas di Jawa, Maluku, dan Kalimantan.

Di Indonesia, temulawak telah dikenal oleh sebagian besar masyarakat dengan nama yang berbeda-beda seperti temulawak, temu putih Indonesiatemulawak Jawa ; Koneng Gede SundaTemulabak Madura. Kawasan Indo-Malaysia merupakan tempat asal temulawak menyebar ke seluruh dunia.

Temulawak merupakan tumbuhan semak tak berbatang. Mulai dari pangkalnya sudah memunculkan tangkai daun yang panjang berdiri tegak. Tinggi tanaman antara 2 sampai 2,5 meter. Daunnya bundar panjang, mirip daun pisang. Pelepah daunnya saling menutupi membentuk batang. Tumbuhan yang patinya mudah dicerna ini dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian meter di atas permukaan laut.

Dapat dipanen setelah berusia bulan, yang ditandai dengan menguningnya daun. Umbi akan muncul dari pangkal batang, warnanya kuning tua atau coklat muda, panjangnya sampai 15 sentimeter dan bergaris tengah 6 sentimeter. Baunya harum dan rasanya pahit agak pedas. Rimpang temulawak telah digunakan secara luas dalam rumah tangga dan industri.

Penggunaan rimpang temulawak dalam bidang industri antara lain industri makanan, minuman, obat-obatan, tekstil dan kosmetik. Peningkatan penggunaan temulawak dalam industri obat-obatan memerlukan teknik pengolahan yang baik sehingga mutunya dapat meningkat. Mutu penyulingan dipengaruhi oleh teknik penyulingan, kehalusan bahan, jenis pelarut, lama ekstraksi, konsentrasi pelarut, nisbah bahan dengan pelarut, proses penguapan pelarut, pemurnian dan pengeringan Bombardelli, ; Vijesekera, Kandungan kimia rimpang temulawak yang dapat dimanfaatkan dalam bidang industri makanan, minuman maupun farmasi adalah pati, kurkuminoid dan minyak atsiri Sidik.

Fraksi pati merupakan komponen terbesar dalam rimpang temulawak. Pati berbentuk serbuk berwarna putih kekuningan karena mengandung sedikit kurkuminoid serta memiliki sifat mudah dicerna sehingga dapat digunakan sebagai bahan campuran makanan bayi maupun untuk pengental sirup.

Pencampuran pati temulawak dengan pati serelia dalam pembuatan roti dapat mengurangi sifat basi dari produk yang dihasilkan Herman dan Atih Suryati, Metoda penarikan minyak atsiri dapat dilakukan dengan mendistilasi daun, batang dan akar rhizomanya. Metode destilasi ada tiga yaitu: Proses penyulingan yang digunakan yaitu penyulingan dengan air disebut juga dengan direct distillation, karena air merupakan pelarut yang mudah didapat, harganya murah, dan tidak merusak bahan.

Jurnal Teknik Kimia USU

Kurkuminoid merupakan komponen yang dapat memberi warna kuning dan zat ini digunakan sebagai zat warna dalam industri pangan dan kosmetik. Fraksi kurkuminoid yang terdapat pada temulawak terdiri dari dua komponen, yaitu kurkumin dan desmetoksikurkumin.

  LA BIBBIA DI KOLBRIN PDF

Menurut Sinambela kurkumin mempunyai sifat koleknesis yaitu dapat meningkatkan produksi dan sekresi empedu. Selain pati dan kurkuminoid, temulawak juga mengandung minyak atsiri yang dapat digunakan untuk pengobatan, bumbu, kosmetik dan pewangi Sidik.

Rimpang temulawak dapat dimanfaatkan sebagai anti inflamasi, temulawao, lipokolesterolemik, anti bakteri, anti jamur, diuretik, anti tumor dan mengobati jerawat. Oleh karena rimpang temulawak banyak manfaatnya, maka dilakukan penelitian untuk meneliti seberapa banyak kandungan minyak atsiri rendemen minyak dan menganalisa sifat-sifat dari minyak atsiri temulawak.

Prosedur pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel temulawak yang dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel pada kulit, kemudian di bagi dua bagian untuk perlakuan temulawk keadaan segar dan kering. Sample segar dipotong-potong, ditimbang gram dihaluskan dengan blender, dan didestilasi, sedangkan sample kering diperoleh dari hasil pengeringan dibawah terik matahari 3 hari,ditimbang gram lalu diblender sampai halus selama 5 menit, kemudian didestilasi.

Proses penyulingan dilakukan dengan mengisi ketel penyulingan dengan aquades sebanyak ml, tutup labu rapat-rapat, hidupkan pemanas, atur suhu yang ditentukan pada skala C agar proses berjalan dengan baik. Lakukan penyulingan sampai volume minyak yang didapat tidak bertambah lagi, dengan suhu kondensor C.

Hasil temulawaak diperoleh dipisahkan dengan corong pemisah sehingga di dapat minyak atsiri, lalu di analisa berdasarkan sifat fisika yemulawak warna minyak, penentuan berat jenis dan penentuan indek bias dan sifat kimia kadar air, bilangan asam, dan bilangan ester serta temilawak rendemen minyak. Diagram alir penelitian dapat dilihat pada gambar 1.

Pengamatan dilakukan secara visual langsung dengan mata tanpa alat bantu. Minyak hasil penyulingan dibawa ke tempat yang terang dan jjrnal pengamatan secara seksama dan teliti terhadap warna minyak temulawak. Cuci dan bersihkanlah piknometer 10 ml dengan etanol, keringkan dan tutup. Timbang piknometer asumsikan beratnya Aisi piknometer dengan aquadest dan letakkan ke dalam thermostat C selama 30 menit, kemudian timbang, asumsikan beratnya sebagai Ckosongkan piknometer ekkstraksi cuci dengan etanol dan keringkan lagi.

Indeks bias merupakan perbandingan antara kecepatan cahaya di dalam udara dengan kecepatan cahaya didalam zat tersebut pada suhu tertentu. Alat yang digunakan yaitu refraktometer. Tempatkan alat dengan baik sehingga sinar matahari dapat ditangkap oleh alat, teteskan sample ke permukaan prisma.

Prisma ditutup rapat dengan sekrup, gerakan adilade mundur atau maju sampai terlihat batas terang dan gelap. Garis pembagi disebut garis pembatas.

Nilai indek bias dapat ekstrraksi langsung. Setelah alat di gunakan, bersihkan permukaan prisma dengan alkohol. Prosedur analisa sifat kimia antara lain: Sample segar dipotong-potong halus, kemudian di timbang sebanyak 50 gram. Masukkan kedalam sebuah wadah yang telah diketahui beratnya, lalu masukkan kedalam oven pada suhu C selama 3 jam, setelah itu di dinginkan dalam desikator, dan di timbang, diulangi sampai tercapai berat konstan.

Jurnal Ekstraksi

Kadar air dapat di hitung dengan rumus sebagai kestraksi Tambahkan 3 tetes indicator fenolfetalin dan dititrasi dengan KOH 0. Bilangan Asam dapat ditentukan sebagai berikut: Penentuan bilangan ester dilakukan dengan pengujian blanko dan contoh sampel. Untuk pengujian blangko yaitu isi labu penyabunan dengan beberapa potong batu didih atau porselen, ekstrakis tambahkan 25 ml larutan kalium hidroksida 0,5 N temulawam alkohol, refluks dengan hati-hati di atas penangas air mendidih selama 1 satu jam.

Diamkan larutan hingga dingin, lepaskan kondensor refluks dan tambah 5 tetes larutan fenolftalein, kemudian titrasi dengan HCl 0,5 N sampai diperoleh perubahan warna, sedangkan pengujian contoh sampel adalah Timbang contoh 4 g 0,05 g dan masukkan ke dalam labu, tambahkan ekstaksi ml kalium hidroksida 0,5 N dan batu didih, refluk diatas penangas air selama 1 jam, lalu lepaskan kondensor refluks, tambahkan 5 tetes larutan fenolftalein, dan titrasi dengan HCl 0,5 N sampai diperoleh perubahan warna.

Bilangan ester E dihitung dengan rumus: Temulawak segar dan tabel 2. Pada tabel 1 dan 2 dapat dilihat bahwa rendemen minyak temulawak dalam keadaan kering lebih tinggi dari pada rendemen minyak temulawak dalam keadaan segar. Hal ini disebabkan karena volume sampel kering lebih banyak dari pada sampel segar. Rendemen minyak dipengaruhi eksteaksi luas permukaan kontak antara sampel dengan air. Semakin luas permukaan kontak antara sampel dengan air maka minyak yang terdapat didalam sel dapat dikeluarkan dengan lebih baik sehingga rendemen yang didapat semakin banyak.

  CALCULO DIFERENCIAL SWOKOWSKI PDF

Untuk itu dalam penelitian ini bahan yang didestilasi, terlebih dahulu dihaluskan dengan cara diblender sampai halus. Rendemen minyak juga dipengaruhi oleh kapasitas ketel penyulingan, semakin banyak isi dari ketel oleh sampel maka rendemen minyak yang dihasilkan juga semakin banyak.

Kehilangan minyak pada proses ekstrqksi karena adanya sedikit minyak pada rimpang temulawak yang ikut menguap dengan air. Oleh karena itu minyak yang didapatkan akan berkurang. Pengamatan Warna Minyak Temulawak: Warna minyak temulawak hasil penyulingan dengan metode destilasi air adalah kuning dan jernih. Dari hasil ini dinyatakan bahwa warna minyak temulawak tersebut sesuai dengan literatur, maka minyak atsiri tersebut baik. Warna minyak atsiri dari temulawak kering warnanya agak pucat ini dikarenakan oleh hilangnya komposisi warna oleh pengeringan dibawah sinar matahari dan juga karena jumlah kadar air yang terdapat dalam temulawak, semakin banyak air yang terdapat dalam temulawak maka warna yang didapat semakin cerah sedangkan jumlah air yang sedikit menghasilkan warna yang pucat.

Indeks bias yang didapat dalam penelitian ini menunjukkan mutu yang baik. Hal ini dapat dilihat bahwa indeks bias minyak atsiri temulawak segar 1, sedangkan indeks bias minyak atsiri temulawak kering yaitu 1, Menurut Guenther, temulawai indeks dipengaruhi oleh adanya air dalam kandungan minyak temulawak tersebut. Semakin banyak kandungan airnya, maka semakin kecil nilai indek biasnya. Ini karena sifat dari air yang mudah untuk membiaskan cahaya yang datang.

Jadi minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang besar lebih bagus dibandingkan dengan minyak atsiri dengan nilai indeks bias yang kecil. Jadi minyak atsiri yang kering lebih bagus dari pada minyak atsiri dalam keadaan segar. Pada tabel 1 dan tabel 2 dapat dilihat bahwa berat jenis minyak atsiri temulawak untuk bahan segar yaitu 0, sedangkan untuk temulawak kering 0, Berarti berat jenis untuk minyak atsiri temulawak kering lebih kecil dari pada temulawak segar.

Ini membuktikan bahwa pada minyak atsiri temulawak segar masih terdapat sedikit air atau komponen-komponen berat lainnya. Menurut Feryanto, Berat jenis sering dihubungkan dengan fraksi berat komponen-komponen yang terkandung didalamnya.

Semakin besar fraksi berat yang terkandung dalam minyak, maka semakin besar pula nilai densitasnya. Biasanya berat jenis komponen terpen teroksigenasi lebih besar dibandingkan dengan terpen tak teroksigenasi. Dari hasil destilasi didapatkan bilangan asam tidak jauh beda yaitu pada temulawak segar bilangan asamnya 1, sedangkan pada temulawak kering bilangan asamnya 2, Terlihat pada penilitian ini bahwa minyak atsiri yang didapatkan memiliki bilangan asam yang hampir sama besarnya.

Hal ini disebabkan waktu penyimpanan yang tidak lama, tidak ada kontak dengan udara dan tidak disimpan pada tempat yang lembab.

Karena sebagian komposisi minyak temjlawak jika kontak dengan udara atau berada pada kondisi yang lembab akan mengalami reaksi oksidasi dengan udara oksigen yang dikatalisi oleh cahaya sehingga akan membentuk suatu senyawa asam.

Menurut Riawan, bilangan asam dapat menunjukkan tingkat ketengikan minyak. Dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 nilai bilangan ester pada sampel minyak atsiri temulawak segar yaitu 36, sedangkan temulawak kering yaitu 35, Bilangan ester menunjukkan jumlah asam organik yang bersenyawa sebagai ester. Besarnya bilangan ester pada minyak atsiri temulawak maka minyak atsiri temulawak memiliki bau harum yang disukai.